HOME

Hubungan Keluarga Dalam Satu Lingkungan Kerja, Profesionalkah Mereka dan Ada Apa Dengan-nya?

Selasa, 04 Maret 2008

Seperti dalam cerita sebelumnya, sampai hari ini saya masih melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di RSU Banyumas hingga genap satu bulan nanti dan tepatnya pada tanggal 18 Maret 2008 akan berakhir. Dalam minggu ini, saya telah melaksanakan PKL sudah 2 minggu lamanya. Untuk waktu dua minggu ini, saya di tempatkan di sebuh instalasi RSU yang sebelumnya saya sudah ceritakan pada posting terakhir dalam blog ini.

Selanjutnya minggu ke 3 hingga minggu terakhir ber-PKL, rencananya kegiatan saya di instalasi tersebut akan di rolling dengan teman saya. Sehingga otomatis saya akan tukar posisi dalam arti pindah lokasi instalasi yang telah di tunjuk. Satu catatan bahwa rolling/tukar posisi praktek ini sebenarnya adalah sebuah perintah/instuksi dari bagian Mutu dan Pendidikan RSU Banyumas. Jadi, mengingat ada sinyal instruksi seperti itu kami rasa tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada sehingga nantinya kami bisa bertukar ilmu dan mendapatkan ilmu yang lebih banyak. Selain itu tentunya akan sangat membantu dalam menghidari rasa bosan dan kejenuhan kerja.


Beberapa kali juga kami telah membicarakan dan ngomong mengenai istruksi itu kepada koordinator karyawan pada bagian instalasi yang kami jumpai saat PKL. Pembicaraan itu mengenai adanya rolling/tukar posisi praktek antara satu instalasi dengan instalasi lain yang kami PKL-kan. Namun, yang saya tangkap dari masing-masing koordinator instalasi bersangkutan seperti “merasa canggung” atau enggan akan keberadaan rolling ini. Sementara koordinator karyawan ini nantinya akan saling kerja sama (ber-partner) dengan salah satu dari kami. Ya, memang kami adalah mahasiswa cewek dan cowok, selain itu kedua koordinator karyawan dari instalasi tersebut ternyata memiliki hubungan yang sangat erat karena ternyata mereka adalah “sepasang suami-istri”. Oleh sebab itu otomatis kalau di rolling pasti salah satu pasangan suami-istri tersebut akan berpasangan dengan salah seorang dari kami.

Sebenarnya bagi kami sendiri tidak ada masalah dengan adanya rolling ini. Kami hanya menuruti dan memanfaatkan perintah dari pihak Mutu & Pendidikan (MuDik). Apalagi tujuan kami PKL adalah untuk mencari ilmu dan sebagai prasarat kelulusan kuliah, jadi tidak ada maksud apa-apa dengan pihak mereka. Lagipula kerja kami adalah sama-sama melayani pasien umum. Yang pasti kami tentunya juga bukan sepasang “Romeo dan Juliet” yang ber-PKL bersama ha…ha….

Berbagai pertanyaan dan pemikiran kami terhadap sikap mereka juga terlontarkan.
“Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka?”
“Ada masalah apa dan kenapa keanehan terjadi?”
Pertanyaan di atas dan beberapa pertanyaan lainnya kami keluarkan setelah pada hari senin pagi saya mendapatkan SMS dari salah seorang Koordinator Karyawan Instalasi yang meminta saya agar bersedia mengajarkan terlebih dahulu teman saya karena karyawan yang bersangkutan pada hari itu malah pindah ruangan kerja sehingga kepindahannya itu jadinya “suami-istri” kerja bersama. Saya juga bingung maksud dari semua tingkah mereka...

Aneh bukan, semestinya hari itu jadwal saya untuk memulai pindah instalasi malahan jadi berdua dengan teman saya dalam ber-PKL tanpa ada koordinator karyawan yang mestinya jaga di situ. Untung saja saya sudah cukup mahir mengatasi dan dalam berkerja. Sampai-sampai dokter jaga dan beberapa karyawan/perawat pun bilang “KoQ aneh sekali”.

Yang pasti para karyawan yang mengetahui hal ini juga bertanya-tanya kenapa koQ tiba-tiba karyawan yang mestinya jaga di instalasi itu malahan pindah yang kami rasa “tidak ada instruksi dari atasan”. Ataukah cuma karena ada rasa takut cemburu dan gak enak dengan situasi yang ada sehingga saya yang mesti “Training Teman Dulu”…?
Yang jelas tidak ada satupun karyawan yang menggantikan posisi kepindahannya, dan kami di biarkan. Ok-lah kalo alasannya cuma hanya untuk mengajarkan teman saya terlebih dahulu, namun kalo bukan hal itu yang menjadikan alasan utama mengenai kepindahannya….?

Itulah yang kami rasakan dan kalo memang alasan karena “kami-lah penyebabnya”, kami benar-benar mohon maaf. Namun yang menjadi pertanyaan kami sendiri adalah kenapa dengan adanya hal tersebut dan bisa jadi malahan masalah pribadi mereka di bawa-bawa dalam lingkungan kerja …?

Bukannya kita semua orang dituntut agar bisa melakukan “Profesionalisme Kerja”?

Kami sebenarnya sih hanya ada perasaan “Tidak Enak” terhadap mereka jikalau timbul masalah karena keberadaan sistem rolling PKL kami. Semoga prasangka/kenyataan dan hal-hal di atas dapat terselesaikan dengan baik sehingga semuanya dapat saling menguntungkan tanpa ada kerugian dan masalah.

Saya juga berharap dengan tulisan ini para pembaca setia bisa dapat mengerti dan dapat menghindari hal-hal negatif di atas. Sehingga profesional dalam lingkungan dan dunia kerja dapat di bina dengan baik.

Demikian uraian saya ini, mohon maaf kalo ada salah-salah kata……

Bagaimana pendapat anda mengenai profesionalisme dunia kerja?
PS: Gambar diambil dari darilymail

0 komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews

Archive